JATIM – Persoalan ekonomi yang semakin berat ternyata tidak hanya berdampak pada kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pokok. Di Kabupaten Jember, tekanan ekonomi bahkan disebut menjadi salah satu pemicu munculnya perselingkuhan yang berujung perceraian.
Fenomena tersebut terungkap dari tingginya angka perkara perceraian yang ditangani Pengadilan Agama (PA) Jember sepanjang Januari hingga Mei 2026.
Berdasarkan data PA Jember, sebanyak 2.211 perkara perceraian masuk dalam kurun lima bulan pertama tahun ini. Mayoritas perkara didominasi cerai gugat yang diajukan pihak istri dengan alasan utama ketidakmampuan suami memberikan nafkah yang layak.
Humas PA Jember, Anwar, menjelaskan bahwa banyak rumah tangga yang awalnya hanya dilanda persoalan ekonomi. Suami yang bekerja serabutan atau tidak memiliki pekerjaan tetap kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi tersebut kemudian memicu pertengkaran yang terus berulang.
“Rata-rata itu 99 persen lah ya. Itu rata-rata ekonomi nafkah. Karena pihak suami itu tidak punya pekerjaan tetap,” kata Anwar saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, konflik rumah tangga saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Di era digital, telepon genggam dan kuota internet telah menjadi kebutuhan yang hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Namun ketika kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk, kebutuhan kuota internet justru kerap menjadi sumber pertengkaran baru.
Anwar menjelaskan, banyak pasangan yang tetap membutuhkan akses internet untuk berkomunikasi maupun bersosialisasi. Sementara di sisi lain, pendapatan keluarga sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
“Sekarang rata-rata suami istri itu walaupun pendidikannya rendah, HP mesti punya. Nah, HP itu butuh kuota. Lah untuk menghidupi kebutuhan pokok tiap hari saja sudah ngos-ngosan,” ujarnya.
Dari kondisi tersebut, keretakan rumah tangga mulai terbentuk. Ketika komunikasi suami istri memburuk akibat persoalan ekonomi, media sosial dan aplikasi perpesanan kerap menjadi ruang pelarian.
Interaksi dengan orang lain di dunia maya kemudian memunculkan rasa nyaman, perhatian, hingga kedekatan emosional yang berpotensi berkembang menjadi perselingkuhan.
“Di situlah paling tidak itu ada rasa cemburu. Bahkan lebih ekstrem lagi nanti meningkat ke hubungan yang spesial. Orang menyebutnya dengan selingkuh, entah selingkuh hati atau selingkuh yang sudah melalui fisiknya,” ungkap Anwar.
Ia menilai, perselingkuhan yang berawal dari dunia digital kini semakin sering ditemukan dalam perkara perceraian. Meski bukan faktor utama, keberadaan telepon genggam dan akses internet menjadi salah satu pintu yang membuka peluang hadirnya orang ketiga ketika hubungan suami istri sedang tidak harmonis akibat tekanan ekonomi.
Selain perselingkuhan, sejumlah perkara perceraian juga dipicu oleh Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), baik dalam bentuk kekerasan verbal maupun fisik. Namun, akar masalah yang paling dominan tetap berasal dari kesulitan ekonomi yang berkepanjangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan