
JATIM - Di usia yang baru menginjak 22 tahun, Raden Muh Abror Ikonansyah berhasil membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk menembus pasar internasional.
Mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Jember (Unej) itu kini sukses menjalankan bisnis ekspor arang kayu (wood charcoal) ke sejumlah negara di Timur Tengah dengan omzet mencapai sekitar Rp700 juta dalam kurun waktu satu tahun.
Perjalanan pria yang akrab disapa Ikon menuju dunia ekspor tidaklah mudah. Pemuda asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik itu mengaku sama sekali tidak memiliki latar belakang bisnis ekspor maupun pengalaman perdagangan internasional.
Bahkan, saat pertama kali mengenal dunia ekspor pada April 2025, dirinya mengaku belum memahami dasar-dasar perdagangan luar negeri.
"Waktu itu saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang ekspor. Saya hanya tertarik setelah melihat konten-konten eksportir di media sosial dan mulai mencari tahu lebih dalam,” ujar Ikon saat dikonfirmasi di Jember, Minggu (14/6/2026).
Awalnya, Ikon datang ke Jember untuk menempuh pendidikan tinggi. Ia sebenarnya bercita-cita menjadi dokter dan sempat memilih Fakultas Kedokteran sebagai pilihan utama saat seleksi masuk perguruan tinggi. Namun takdir membawanya ke Program Studi MIPA Biologi sebagai pilihan kedua.
"Awalnya saya ingin masuk Kedokteran karena disarankan ayah. Setelah tidak lolos, saya diterima di Biologi dan akhirnya saya jalani,” katanya.
Saat memasuki semester empat, Ikon mulai merasa perlu melakukan sesuatu yang dapat membuat orang tuanya bangga. Nilai akademik yang menurutnya belum memuaskan membuatnya mencoba peruntungan di dunia usaha dengan mengimpor pod vape dari Malaysia.
Namun usaha pertamanya itu tidak berjalan sesuai harapan karena sebagian besar produk tidak terjual. Kegagalan tersebut justru menjadi titik awal yang membawanya mengenal bisnis ekspor.
Berbekal rasa penasaran setelah melihat berbagai konten tentang peluang ekspor komoditas Indonesia, Ikon mulai mengikuti kelas daring dan mempelajari berbagai materi perdagangan internasional secara mandiri melalui YouTube, TikTok, serta seminar-seminar bisnis.
Momentum penting datang ketika ia menghadiri sebuah seminar ekspor di Sidoarjo. Di sana, Ikon mendapatkan wawasan sekaligus membangun jaringan dengan eksportir, produsen, hingga perusahaan jasa logistik atau forwarder.
“Di seminar itu saya dapat ilmu dan relasi. Dari situlah saya mulai memahami bagaimana proses ekspor sebenarnya berjalan,” ungkap pemuda kelahiran 3 Juni 2004 ini.
Dari berbagai komoditas yang dipelajari, Ikon akhirnya memilih arang kayu sebagai fokus bisnisnya. Pilihan tersebut berawal dari ketertarikannya terhadap kisah sukses eksportir arang yang ia temui dan ikuti melalui media sosial.
Pada awal perjalanan bisnisnya, Ikon sebenarnya menargetkan ekspor briket arang untuk kebutuhan shisha di Timur Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan