JATIM – Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena Sound Horeg semakin populer di kalangan anak muda, terutama di desa-desa Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Barat. Suara musik dengan bass kuat, distorsi tinggi, dan karakter “pecah” ini banyak digunakan dalam acara hajatan, karnaval, hingga hiburan malam anak muda. Meski kerap menuai pro dan kontra, Sound Horeg kini telah menjadi bagian dari budaya populer generasi muda di daerah.
Apa Itu Sound Horeg?
“Sound Horeg” adalah istilah lokal yang merujuk pada suara sound system yang sengaja dibuat pecah, cempreng, dan memiliki bass bergetar keras. Berbeda dari sound profesional yang jernih dan seimbang, sound horeg justru dianggap semakin asyik ketika:
Bass dibuat sangat tebal
Treble dibiarkan pecah dan menggigit
Distorsi dikeluarkan sampai terdengar “jor-joran”
Karakter suara ini dianggap memberikan sensasi berbeda, terutama untuk musik dangdut koplo, bass boosted, dan remix TikTok.
Asal-Usul Sound Horeg: Dari Tradisi Lokal hingga Budaya Digital
1. Berawal dari Hajatan Desa
Fenomena ini diperkirakan muncul sejak awal 2010-an, ketika banyak warga desa mulai menggunakan sound system rakitan untuk pesta pernikahan, tahlilan besar, atau hiburan kampung.
Karena keterbatasan alat, suara yang dihasilkan sering pecah—hingga kemudian menjadi ciri yang justru dianggap “unik” dan menciptakan suasana meriah.
2. Pengaruh Bass Culture dari Jawa Timur
Jawa Timur dikenal memiliki kultur musik berbass kuat, seperti:
Dangdut koplo
Musik patrol
Remix bass Jatim
Keinginan untuk menonjolkan bass semakin memperkuat karakter suara “horeg”.
3. Perkembangan Komunitas Sound Rakitan
Komunitas sound rakitan lokal berkembang pesat. Mereka berkompetisi menghasilkan suara paling bertenaga, dan “horeg” menjadi gaya yang sengaja diciptakan agar berbeda dari sound profesional.
4. Viral Lewat TikTok dan Media Sosial
Sejak 2021, video-vlog menggunakan audio “horeg” viral di TikTok dan Instagram. Efek ini membuat sound horeg naik kelas menjadi tren nasional di kalangan remaja.
5. Dipopulerkan oleh Event Karnaval dan Konvoi
Karnaval desa, festival pemuda, konvoi 17 Agustus, hingga balap liar makin memperluas penggunaan sound horeg di jalanan.
Mengapa Sound Horeg Disukai Anak Muda?
Ada beberapa alasan fenomena ini berkembang pesat:
Sensasi hentakan bass yang dianggap lebih energik
Identitas komunitas yang ingin tampil beda
Biaya murah, karena sound rakitan tidak memerlukan perangkat mahal
Cocok untuk musik remix, yang digemari generasi Z
Efek sosial, karena dianggap meramaikan acara dan menarik perhatian
Bagi sebagian remaja, sound horeg memberikan rasa kebersamaan dalam komunitas.
Kontroversi dan Dampaknya
Meski populer, sound horeg tak lepas dari kritik:
1. Gangguan Kebisingan
Banyak warga mengeluhkan suara bising hingga dini hari, terutama saat hajatan atau acara kawula muda.
2. Berpotensi Melanggar Aturan Ketertiban
Beberapa pemerintah daerah mengeluarkan imbauan agar sound horeg dibatasi karena mengganggu aktivitas masyarakat.
3. Risiko Kerusakan Alat dan Pendengaran
Mesin dipaksa bekerja di luar batas, sementara paparan suara keras dapat mengganggu kesehatan telinga.
Meski demikian, sebagian daerah memilih melakukan penataan, bukan pelarangan total.
Fenomena Sound Horeg berawal dari tradisi lokal, berkembang melalui kreativitas komunitas sound rakitan, dan akhirnya menjadi tren nasional berkat media sosial. Bagi sebagian anak muda, sound horeg bukan sekadar musik, melainkan ekspresi budaya dan identitas komunitas.
Dengan pengaturan yang baik—mulai dari jam penggunaan hingga standar volume—fenomena ini dapat tetap dinikmati tanpa menimbulkan gangguan bagi masyarakat luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dari Berbagai Sumber