Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 09 JULI 2026 • 09:02 WIB

Potret Kemiskinan di Tengah Kota Jember, Bertahan Hidup dengan Rp15 Ribu Sehari Sambil Berharap Uluran Bantuan Pemerintah

Potret Kemiskinan di Tengah Kota Jember, Bertahan Hidup dengan Rp15 Ribu Sehari Sambil Berharap Uluran Bantuan Pemerintah"Terhimpit Biaya Kontrakan, Tunggakan PDAM, hingga Istri Mengidap Kanker Payudara"

JATIM – Di balik hiruk pikuk pusat Kota Jember, masih tersimpan kisah pilu tentang perjuangan sebuah keluarga yang berusaha bertahan di tengah himpitan ekonomi. Kuswantoro (50), yang akrab disapa Pak Iwan, kini menjalani hari-harinya dengan penuh ketidakpastian di rumah kontrakan sederhana berukuran sekitar 5x5 meter di Lingkungan Sawahan, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Bersama sang istri, Puji Rahayu Maulidiyah (44), dua anak yang masih duduk di bangku SD negeri dan SMK negeri, serta ibu mertua yang menderita stroke, Pak Iwan harus memutar otak agar keluarganya tetap bisa makan dan memiliki tempat tinggal.

Kesulitan ekonomi yang dialami keluarga tersebut bermula saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Sebelum pandemi, Pak Iwan menggantungkan hidup dari usaha mikro telur gulung yang cukup ramai pembeli. Ia juga sesekali bekerja sebagai sopir yang melayani perjalanan Dinas Sosial Jember untuk mengantar maupun menjemput pasien rujukan dari Surabaya dan Mojokerto. Namun, ketika aktivitas masyarakat dibatasi akibat pandemi, usaha telur gulung miliknya bangkrut total, sementara pekerjaan sebagai sopir ikut berhenti. Sejak saat itu, kondisi ekonomi keluarga terus merosot hingga akhirnya mereka kehilangan sumber penghasilan utama.

Musibah tidak berhenti sampai di situ. Di tengah keterpurukan ekonomi, keluarga Pak Iwan harus menjual rumah milik mertuanya untuk membiayai pengobatan ayah mertua yang mengidap penyakit jantung koroner sebelum meninggal dunia pada 2022. Kini, mereka hidup berpindah ke rumah kontrakan dengan berbagai kebutuhan yang semakin menumpuk.

Cobaan kembali datang ketika ibu mertua Pak Iwan mengalami stroke selama kurang lebih tiga tahun terakhir. Belum selesai menghadapi kondisi tersebut, pada September 2025 istrinya didiagnosis menderita kanker payudara dan harus menjalani dua kali operasi di RSUD dr. Soebandi Jember. Beruntung, seluruh biaya pengobatan, termasuk operasi biopsi senilai sekitar Rp5 juta, operasi lanjutan sekitar Rp6 juta, hingga biaya transportasi rumah sakit ditanggung melalui program Universal Health Coverage (UHC) Kabupaten Jember, sehingga keluarga tidak terbebani biaya medis. Saat ini kondisi sang istri mulai membaik dan masih menjalani masa pemulihan.

Meski demikian, persoalan ekonomi sehari-hari justru semakin berat. Pak Iwan mengaku sudah menunggak pembayaran sewa rumah selama empat bulan. Selain itu, tagihan PDAM yang tidak mampu ia bayar selama satu tahun telah membengkak hingga sekitar Rp2,5 juta. Ia mendapat keringanan pembayaran secara mencicil, namun tetap harus membayar angsuran sekitar Rp188 ribu setiap bulan di luar tagihan air yang terus berjalan.

"Tunggakan air sampai sekitar Rp2,5 juta itu menjadi beban pikiran saya. Sampai susah tidur karena belum mampu membayarnya. Saya juga masih menunggak kontrakan rumah. Kalau ada bantuan, saya ingin digunakan untuk melunasi kebutuhan pokok dulu, setelah itu saya ingin kembali usaha," ujar Pak Iwan.

Saat ini, penghasilan Pak Iwan nyaris tidak menentu. Sesekali ia diminta mencuci mobil atau membantu pekerjaan ringan dengan upah sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga, kakaknya sempat memberikan modal Rp60 ribu agar ia bisa berjualan kerupuk, kopi, dan minuman dingin di dekat lokasi proyek bangunan. Namun penghasilan dari usaha kecil tersebut masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun biaya pendidikan kedua anaknya.

Kondisi ekonomi yang semakin sulit juga membuat keluarga ini beberapa kali kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Bahkan, mereka mengaku pernah tidak dapat memasak karena kehabisan gas elpiji. "Kadang kalau ada rezeki ya makan. Kalau tidak ada, ya menunggu. Sekarang saja gas habis dan belum bisa beli," tuturnya.

Berharap ada jalan keluar, Pak Iwan kemudian mengadukan kondisinya melalui layanan pengaduan "Wadul Guse". Dalam laporannya, ia memohon bantuan agar dapat membayar biaya kontrakan rumah sehingga penghasilannya kelak bisa difokuskan untuk kembali merintis usaha kecil. Namun, berdasarkan tanggapan yang diterimanya, permohonan tersebut dinilai masuk ranah pribadi dan diteruskan kepada dinas terkait untuk ditindaklanjuti.

Pak Iwan juga mengaku belum pernah menerima bantuan sosial reguler seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Berdasarkan data yang ia terima, keluarganya masih masuk kategori desil 5 dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), sehingga belum memenuhi kriteria sebagai penerima bantuan sosial tersebut.

"Saya hanya ingin bisa membayar kontrakan rumah setidaknya untuk satu tahun. Kalau kebutuhan tempat tinggal sudah aman, penghasilan yang saya dapat bisa dipakai membuka usaha lagi. Saya tidak ingin terus bergantung pada bantuan," katanya.

Di tengah wajah modern Kota Jember, kisah keluarga Pak Iwan menjadi potret bahwa masih ada masyarakat yang berjuang keluar dari lingkaran kemiskinan akibat dampak pandemi, penyakit yang menimpa anggota keluarga, serta hilangnya mata pencaharian. Harapan mereka sederhana, yakni memperoleh kesempatan untuk kembali berdiri melalui bantuan yang tepat sasaran sehingga dapat kembali mandiri dan menghidupi keluarganya dengan layak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERBARU

Potret Kemiskinan di Tengah Kota Jember, Bertahan Hidup dengan Rp15 Ribu Sehari Sambil Berharap Uluran Bantuan Pemerintah

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!