Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 07 JUNI 2026 • 10:46 WIB

Guru Tunanetra Kabupaten Probolinggo Buktikan Mimpi Bisa Taklukkan Keterbatasan

Guru Tunanetra Kabupaten Probolinggo Buktikan Mimpi Bisa Taklukkan Keterbatasan

JATIM – Keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Semangat itulah yang mengemuka dalam podcast inspiratif bertajuk “Merantau, Mengabdi dan Menginspirasi: Perjalanan Guru Tunanetra Menjadi ASN/P3K” yang digelar LPPL Radio Bromo FM di Studio Radio Bromo FM Jalan Raya Rengganis Nomor 1 Kraksaan, Sabtu (6/6/2026) pagi.

Podcast yang dipandu penyiar LPPL Radio Bromo FM Veyy Veronica tersebut menghadirkan dua narasumber inspiratif, yakni Humas Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Probolinggo Adam serta anggota Pertuni sekaligus guru MAN 2 Probolinggo Ahmad Syarif.

Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus motivasi bagi penyandang disabilitas, khususnya tunanetra agar tetap optimis menempuh pendidikan, mengembangkan potensi diri dan meraih cita-cita meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Syarif membagikan kisah perjuangannya merantau dari Sulawesi Selatan hingga akhirnya mengabdikan diri sebagai pendidik di Kabupaten Probolinggo. Kariernya sebagai guru dimulai di SLB Sulawesi Selatan pada tahun 2018 sebelum melanjutkan pengabdian di Kabupaten Probolinggo sejak tahun 2019.

“Khusus untuk penyandang tunanetra, jangan pernah menyerah menjalani hidup. Selama kita mau berkorban, bekerja keras dan pantang putus asa, kita pasti memiliki tujuan hidup yang berarti,” ujarnya.

Menurut Syarif, keputusan mengajar jauh dari kampung halaman merupakan bagian dari perjalanan hidup yang harus dijalani dengan penuh rasa syukur. Pengalaman merantau justru memberinya banyak pelajaran, keluarga baru serta lingkungan yang memperkaya wawasan dan pengalaman hidupnya.

“Saya percaya Tuhan selalu menempatkan orang-orang baik di sekitar kita. Merantau memberikan banyak pengalaman baru yang sangat berharga untuk dipelajari,” katanya.

Tak hanya aktif sebagai pendidik, Syarif juga dikenal sebagai seorang penulis. Melalui bukunya yang berjudul “Melesat Melampaui Batas”, ia menceritakan perjalanan hidupnya sebagai penyandang tunanetra yang berusaha membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang dan berkarya.

“Orang lain menghirup oksigen, saya pun menghirup oksigen yang sama. Orang lain lahir dari rahim seorang ibu, saya pun demikian. Lalu mengapa harus ada stigma normal dan tidak normal?” ungkapnya.

Sementara Adam turut membagikan kisah perjuangannya dalam menempuh pendidikan hingga berhasil menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Pria kelahiran Surabaya tersebut memilih merantau ke Jember untuk melanjutkan pendidikan di IKIP Jember demi mengubah masa depannya.

Sebelum menjadi ASN, Adam pernah bekerja sebagai tukang pijat dan aktif mengembangkan bakat bermusik sejak usia dini. Berbagai tantangan hidup harus dihadapinya, termasuk saat sang ayah meninggal dunia hanya sepekan sebelum pelaksanaan ospek kuliah. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk terus belajar dan mengejar cita-cita.

Menurut Adam, salah satu tantangan terbesar bagi penyandang disabilitas adalah ketika mengikuti seleksi CPNS maupun PPPK yang menuntut kesiapan administrasi dan kompetensi yang tidak ringan.

“Perjuangan menjadi ASN tidak mudah bagi penyandang disabilitas. Namun ketika kita terus berusaha dan tidak menyerah, hasilnya akan sebanding dengan perjuangan yang telah dilakukan,” tuturnya.

Sebagai tenaga pendidik yang mengajar siswa disabilitas di Kabupaten Probolinggo, Adam juga menerapkan metode pembelajaran yang menyenangkan dalam mengenalkan huruf Braille kepada peserta didiknya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dari Berbagai Sumber

BERITA TERBARU

Guru Tunanetra Kabupaten Probolinggo Buktikan Mimpi Bisa Taklukkan Keterbatasan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!