Selasa, 23 JUNI 2026 • 10:27 WIB

Suami Diduga Depresi, Ibu Tiga Anak dan Saudara Difabel di Jember Jadi Korban KDRT dan Penyekapan

Author

JATIM – Seorang ibu rumah tangga berinisial ER (38) bersama tiga anaknya dan seorang kakak kandung penyandang disabilitas diduga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan penyekapan yang dilakukan suaminya sendiri, HL (38), di sebuah kompleks perumahan di Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Peristiwa tersebut terungkap setelah Erina berhasil melarikan diri dari rumah pada Sabtu malam (20/6/2026) kemarin sekitar pukul 20.30 WIB. Dalam kondisi panik dan mengalami luka akibat dugaan penganiayaan, korban hanya sempat membawa anak pertamanya berinisial AL (7), sementara dua anak lainnya, yakni CR (5) dan TM (2), serta kakak kandungnya yang difabel berinisial DD (41), masih tertinggal di dalam rumah.

Kepala UPT Liposos Dinas Sosial PPPA Jember, Roni Effendi, mengatakan pihaknya menerima laporan dari masyarakat terkait dugaan KDRT yang dialami ER. Saat itu korban diketahui mencari perlindungan di sebuah klinik kesehatan di kawasan Kaliurang setelah berhasil menyelamatkan diri.

"Pada malam Minggu sekitar pukul setengah sembilan malam kami mendapat laporan bahwa Nyonya ER mendapat perlakuan KDRT dari suaminya. Saat melarikan diri, korban hanya sempat membawa satu anaknya, sedangkan dua anak lainnya dan kakak kandungnya yang disabilitas masih berada di dalam rumah," ujar Roni saat dikonfirmasi di Kantornya, Senin (22/6/2026) malam.

Mendapat laporan tersebut, petugas Dinas Sosial bersama sejumlah relawan Ben Seromben Indonesia, langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi. Sekitar pukul 22.00 WIB, petugas mendapati rumah dalam kondisi terkunci dari luar dan gelap gulita karena aliran listrik dimatikan melalui saklar utama di bagian depan rumah.

Beruntung, korban membawa kunci duplikat sehingga petugas dapat masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah ditemukan dua anak korban dan saudara difabelnya yang kemudian segera dievakuasi demi keselamatan mereka.

"Langkah pertama kami adalah menyelamatkan nyawa dua anak korban dan kakak kandungnya yang disabilitas. Setelah berhasil dievakuasi, mereka langsung kami bawa ke Rumah Aman UPT PPA Dinas Sosial PPPA Kabupaten Jember," kata Roni.

Menurut Roni, saat proses evakuasi ditemukan sejumlah luka pada korban maupun anak-anaknya. Erina mengalami luka di bagian kepala akibat pukulan, sementara kedua anaknya ditemukan mengalami memar pada tangan dan kaki.

Dugaan kekerasan ini juga dibenarkan Ketua Relawan Ben Seromben Indonesia, Maya Cendrawasih. Ia mengaku mendapat telepon langsung dari korban sesaat setelah berhasil melarikan diri.

"Saat itu korban menghubungi saya dan mengatakan menjadi korban penganiayaan oleh suaminya sendiri. Dia berhasil menyelamatkan diri ke klinik dekat rumah, tetapi hanya bisa membawa anak pertamanya. Dua anak lainnya dan kakaknya masih berada di rumah," ujar Maya.

Maya kemudian berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk melakukan penyelamatan. Saat mendatangi klinik tempat korban berlindung, ia melihat kondisi wajah Erina dipenuhi lebam akibat dugaan pukulan yang diterimanya.

Setelah itu, tim gabungan menuju rumah korban dan berhasil mengevakuasi anak-anak serta saudara difabel yang masih berada di dalam rumah. Menurut keterangan korban yang diterima relawan, anak-anak tersebut selama ini diduga jarang bahkan tidak pernah diajak keluar rumah.

"Korban bercerita anak-anaknya tidak pernah keluar rumah. Rumah juga sering dalam keadaan gelap karena lampu tidak dinyalakan. Saat berhasil dievakuasi, anak-anak terlihat sangat antusias melihat dunia luar. Bahkan mereka berteriak 'merdeka, akhirnya bebas'," tutur Maya.

Sementara itu, HL yang diduga mengalami gangguan kejiwaan akhirnya berhasil diamankan pada Minggu pagi sekitar pukul 08.30 WIB. Proses evakuasi dilakukan oleh petugas Dinas Sosial bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas Sumbersari, tenaga kesehatan jiwa, perangkat kelurahan, serta tokoh masyarakat setempat.

Menurut Roni, Halim diketahui pernah dua kali dirujuk untuk menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang. Bahkan sebelumnya yang bersangkutan dijadwalkan menjalani perawatan kembali, namun tidak hadir karena meninggalkan rumah.

"Alhamdulillah proses evakuasi berjalan kondusif. Saudara HL langsung dibawa ke RSJ Lawang untuk mendapatkan perawatan intensif," katanya.

Saat ini korban bersama anak-anaknya dan saudara difabelnya masih berada dalam pendampingan serta perlindungan Dinas Sosial PPPA Kabupaten Jember, sementara pihak terkait terus melakukan penanganan lanjutan guna memastikan keselamatan seluruh korban.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU