Minggu, 14 JUNI 2026 • 20:21 WIB

Berawal dari Ditolak Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Unej Ini Kini Jadi Eksportir Arang Internasional

Author

JATIM - Di usia yang baru menginjak 22 tahun, Raden Muh Abror Ikonansyah berhasil membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk menembus pasar internasional.

Mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Jember (Unej) itu kini sukses menjalankan bisnis ekspor arang kayu (wood charcoal) ke sejumlah negara di Timur Tengah dengan omzet mencapai sekitar Rp700 juta dalam kurun waktu satu tahun.

Perjalanan pria yang akrab disapa Ikon menuju dunia ekspor tidaklah mudah. Pemuda asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik itu mengaku sama sekali tidak memiliki latar belakang bisnis ekspor maupun pengalaman perdagangan internasional.

Bahkan, saat pertama kali mengenal dunia ekspor pada April 2025, dirinya mengaku belum memahami dasar-dasar perdagangan luar negeri.

"Waktu itu saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang ekspor. Saya hanya tertarik setelah melihat konten-konten eksportir di media sosial dan mulai mencari tahu lebih dalam,” ujar Ikon saat dikonfirmasi di Jember, Minggu (14/6/2026).

Awalnya, Ikon datang ke Jember untuk menempuh pendidikan tinggi. Ia sebenarnya bercita-cita menjadi dokter dan sempat memilih Fakultas Kedokteran sebagai pilihan utama saat seleksi masuk perguruan tinggi. Namun takdir membawanya ke Program Studi MIPA Biologi sebagai pilihan kedua.

"Awalnya saya ingin masuk Kedokteran karena disarankan ayah. Setelah tidak lolos, saya diterima di Biologi dan akhirnya saya jalani,” katanya.

Saat memasuki semester empat, Ikon mulai merasa perlu melakukan sesuatu yang dapat membuat orang tuanya bangga. Nilai akademik yang menurutnya belum memuaskan membuatnya mencoba peruntungan di dunia usaha dengan mengimpor pod vape dari Malaysia.

Namun usaha pertamanya itu tidak berjalan sesuai harapan karena sebagian besar produk tidak terjual. Kegagalan tersebut justru menjadi titik awal yang membawanya mengenal bisnis ekspor.

Berbekal rasa penasaran setelah melihat berbagai konten tentang peluang ekspor komoditas Indonesia, Ikon mulai mengikuti kelas daring dan mempelajari berbagai materi perdagangan internasional secara mandiri melalui YouTube, TikTok, serta seminar-seminar bisnis.

Momentum penting datang ketika ia menghadiri sebuah seminar ekspor di Sidoarjo. Di sana, Ikon mendapatkan wawasan sekaligus membangun jaringan dengan eksportir, produsen, hingga perusahaan jasa logistik atau forwarder.

“Di seminar itu saya dapat ilmu dan relasi. Dari situlah saya mulai memahami bagaimana proses ekspor sebenarnya berjalan,” ungkap pemuda kelahiran 3 Juni 2004 ini.

Dari berbagai komoditas yang dipelajari, Ikon akhirnya memilih arang kayu sebagai fokus bisnisnya. Pilihan tersebut berawal dari ketertarikannya terhadap kisah sukses eksportir arang yang ia temui dan ikuti melalui media sosial.

Pada awal perjalanan bisnisnya, Ikon sebenarnya menargetkan ekspor briket arang untuk kebutuhan shisha di Timur Tengah.

Bahkan ia sempat memperoleh calon pembeli dari Lebanon yang berpotensi mendatangkan omzet hingga Rp2 miliar dari empat kontainer pengiriman. Namun peluang besar itu gagal terealisasi akibat kualitas produk dari pemasok yang tidak memenuhi standar yang diminta pembeli.

"Kalau waktu itu saya tetap kirim barang dengan kualitas yang tidak sesuai, saya yang akan menerima komplain. Jadi lebih baik batal daripada merusak kepercayaan pembeli,” tegasnya.

Setelah kegagalan tersebut, Ikon mengalihkan fokus ke arang kayu atau wood charcoal. Ia mulai aktif membuat konten promosi dan dokumentasi aktivitas produksi arang di media sosial.

Tak disangka, salah satu video yang diunggahnya menarik perhatian calon pembeli dari Dubai. Komunikasi awal terjadi melalui TikTok sebelum berlanjut ke WhatsApp.

Namun proses transaksi tidak langsung berjalan mulus. Calon pembeli tersebut terlebih dahulu melakukan verifikasi terhadap legalitas usaha Ikon melalui Kedutaan Besar Indonesia sebelum akhirnya menyepakati kerja sama.

"Setelah dicek kedutaan dan perusahaan saya dinyatakan jelas, mereka kembali menghubungi saya dan proses bisnis mulai berjalan,” ujarnya.

Untuk menjalankan bisnis ekspornya, Ikon mendirikan PT Dekon Global Indonesia, nama yang diambil dari usaha keluarga milik ayahnya. Meski telah memiliki perusahaan sendiri, ia tetap menjalankan bisnis secara bertahap tanpa membangun gudang ataupun pabrik.

Model bisnis yang diterapkannya cukup sederhana. Ketika mendapatkan pesanan dari luar negeri, Ikon langsung menghubungi produsen arang dan menyesuaikan jadwal produksi dengan keberangkatan kapal.

Cara ini membuatnya tidak perlu menumpuk stok maupun mengeluarkan biaya besar untuk penyimpanan barang.

"Dari awal saya memang ingin mulai dari bawah. Barang selesai produksi langsung dimuat ke kontainer dan dikirim. Jadi tidak perlu gudang besar,” jelasnya.

Hingga pertengahan 2026, Ikon tercatat telah berhasil mengirim empat kontainer arang ke Arab Saudi dan Dubai. Menurutnya, pencapaian tersebut tergolong cepat karena banyak pelaku ekspor membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum berhasil melakukan pengiriman internasional pertama.

"Alhamdulillah, saya belajar sekitar enam bulan lalu langsung bisa melakukan pengiriman pertama,” katanya.

Meski bisnisnya berkembang pesat, perjalanan Ikon tidak lepas dari berbagai tantangan.

Salah satunya ketika ia menerima komplain dari pembeli di Dubai akibat kualitas arang yang tidak sesuai spesifikasi karena ulah pemasok yang mengirim barang grade B, padahal yang dipesan adalah grade A.

Demi menjaga kepercayaan pelanggan, Ikon memilih bertanggung jawab dan menawarkan penggantian satu kontainer secara gratis, sementara biaya pengiriman ditanggung pembeli.

"Dalam bisnis ekspor yang paling penting adalah kejujuran dan amanah. Jangan terlalu tergila-gila pada keuntungan. Kepercayaan jauh lebih mahal,” tegasnya.

Di tengah situasi ekonomi global dan meningkatnya biaya pelayaran internasional akibat konflik geopolitik, Ikon mengaku masih mampu mempertahankan usahanya karena permintaan dari pelanggan tetap yang membutuhkan pasokan arang secara berkelanjutan.

Bahkan salah satu pembelinya di Arab Saudi disebut membutuhkan hingga delapan kontainer per bulan. Saat ini, selain tetap menjalankan bisnis, Ikon juga masih aktif mengikuti perkuliahan di semester enam.

Ia mengatur jadwal kuliah dan aktivitas ekspor secara disiplin dengan memanfaatkan akhir pekan untuk mengurus pengiriman barang. Menariknya, dukungan keluarga yang semula minim kini berubah menjadi dorongan penuh setelah melihat hasil kerja kerasnya.

Bahkan ketika sang ayah menyarankan untuk membeli mobil guna menunjang aktivitas bisnisnya, Ikon memilih menunda dan uang hasil usahanya digunakan untuk membantu keluarganya dan masyarakat yang membutuhkan di lingkungan rumahnya.

Selain itu, uang hasil usaha yang dilakoni juga ditabung. Karena Ikon, bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan S2 setelah lulus. Ke depan, Ikon juga berencana memperluas pasar ekspor ke kawasan Eropa, Australia, dan negara-negara lainnya. Ia juga menargetkan pembangunan gudang sendiri di Gresik agar operasional bisnis menjadi lebih efisien.

"Kalau ada yang meremehkan, tidak usah didengarkan. Fokus saja pada tujuan. Ilmu bisa ditiru, tetapi rezeki setiap orang berbeda,” pungkasnya.

Kesuksesan Ikon menjadi bukti bahwa keberanian belajar, membangun relasi, menjaga integritas, serta memanfaatkan teknologi dapat membuka peluang besar bagi generasi muda Indonesia untuk bersaing di pasar global.

Dari seorang mahasiswa yang sempat gagal masuk Fakultas Kedokteran, kini ia menjelma menjadi eksportir muda yang membawa komoditas lokal Indonesia menembus pasar internasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU