JATIM – Menjelang bulan suci Ramadhan, umat Islam diwajibkan melaksanakan puasa selama satu bulan penuh. Salah satu rukun penting dalam ibadah puasa adalah niat puasa Ramadhan. Meski sering dianggap sepele, niat memiliki peran krusial dalam menentukan sah atau tidaknya puasa yang dijalankan.
Lantas, bagaimana bacaan niat puasa Ramadhan, tata cara pelaksanaannya, serta hukum niat dalam puasa menurut ajaran Islam? Berikut penjelasan lengkapnya.
Pengertian Niat Puasa Ramadhan
Dalam Islam, niat berarti keinginan atau tekad dalam hati untuk melaksanakan suatu ibadah karena Allah SWT. Niat puasa Ramadhan adalah keinginan sungguh-sungguh dalam hati untuk berpuasa pada siang hari di bulan Ramadhan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
Niat tidak harus diucapkan secara lisan, namun kehadirannya di dalam hati menjadi syarat sah puasa.
Bacaan Niat Puasa Ramadhan
Berikut bacaan niat puasa Ramadhan yang umum diamalkan oleh umat Islam di Indonesia:
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan karena Allah Ta‘ala.”
Waktu dan Tata Cara Niat Puasa Ramadhan
1. Waktu Berniat
Menurut mayoritas ulama, niat puasa Ramadhan dilakukan pada malam hari, mulai dari setelah matahari terbenam hingga sebelum terbit fajar (waktu Subuh).
Dalam Mazhab Syafi’i, niat harus diperbarui setiap malam untuk puasa Ramadhan.
2. Tata Cara Berniat
Niat dilakukan di dalam hati
Boleh diucapkan untuk membantu menghadirkan niat
Dilakukan sebelum waktu Subuh
Tidak harus menggunakan bahasa Arab
Hukum Niat Puasa Ramadhan
Niat puasa Ramadhan hukumnya wajib dan termasuk salah satu rukun puasa. Tanpa niat, puasa seseorang dianggap tidak sah, meskipun ia menahan lapar dan dahaga seharian penuh.
Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Apakah Lupa Niat Membatalkan Puasa?
Jika seseorang lupa berniat pada malam hari, maka menurut Mazhab Syafi’i, puasanya tidak sah dan wajib diqadha di hari lain. Namun, sebagian mazhab lain seperti Maliki membolehkan niat satu kali untuk satu bulan, selama tidak ada pembatal puasa di tengah Ramadhan.
Perbedaan pendapat ini menunjukkan adanya kelonggaran dalam Islam, namun umat dianjurkan mengikuti pendapat yang diyakini kebenarannya.
Niat puasa Ramadhan merupakan syarat sah puasa yang tidak boleh diabaikan. Meski tempatnya di dalam hati, memahami bacaan, waktu, serta hukumnya akan membantu umat Islam menjalankan ibadah puasa dengan lebih tenang dan sesuai tuntunan syariat.
Dengan niat yang benar, puasa Ramadhan tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi ibadah yang bernilai pahala di sisi Allah SWT.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dari Berbagai Sumber