
JATIM - Papan skateboard menjadi alat bantu jalan bagi Abdul Azis (28), penyandang disabilitas tuna daksa asal Dusun Krajan, Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Namun, keterbatasan fisik itu tidak membuatnya berhenti beraktivitas. Azis justru memilih bekerja sebagai ojek online (ojol) sekaligus menekuni dunia konten kreator.
Setiap hari, Azis menjalani aktivitasnya dengan cara yang mungkin bagi sebagian orang tidak biasa. Ia menggunakan papan skateboard untuk membantu mobilitasnya. Sementara untuk bekerja sebagai pengemudi ojol, Azis mengendarai sepeda motor matik Honda Vario 2025. Dari atas kendaraan itulah, ia berkeliling mencari orderan makanan maupun mengantarkan pesanan.
Bagi Azis, keputusan menjadi ojol bukanlah sesuatu yang langsung mudah dilakukan. Ia sempat bertanya kepada dirinya sendiri apakah mampu bekerja di jalan dengan kondisi fisiknya. Namun, rasa penasaran dan keinginannya untuk mandiri membuat Azis memilih mencoba.
"Awalnya ya karena ekonomi juga. Enggak mungkin kita selalu bergantung sama orang tua terus. Ya sudahlah, gas bismillah, coba ojol," kata Azis saat diwawancarai disela jam istirahat nya di Masjid Al Falah, Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember, Rabu (15/7/2026).
**Sempat Ragu, Azis Nekat Mencoba Menjadi Ojol**
Azis mengaku baru sekitar satu bulan lebih menjalani pekerjaan sebagai pengemudi ojol. Sebelum diterima menjadi mitra, ia sempat mengalami kendala administrasi karena Surat Izin Mengemudi (SIM) D miliknya sudah tidak berlaku.
"Dulu pernah daftar, tapi waktu itu SIM-nya mati. Akhirnya buat SIM lagi, daftar, dan alhamdulillah diterima," ujarnya.
Setelah resmi menjadi ojol, Azis perlahan menemukan ritme kerjanya. Ia bekerja pada pagi hingga siang hari untuk mencari penghasilan sekaligus bahan konten. Sementara proses mengedit video biasanya dilakukan pada malam hari.
"Ngedit video malam, paling lama dua sampai tiga jam. Kalau pagi sampai kerja, sekalian mencari bahan konten," tutur Azis.
Menurut Azis, penghasilan sebagai ojol di Jember memang belum besar. Namun, ia tetap bersyukur karena penghasilan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan pribadinya.
"Meskipun hasil ojol di Jember segitulah, tapi alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan untuk diri sendiri. Meskipun belum banyak, tapi alhamdulillah cukup," katanya.
Keputusan untuk bekerja mandiri juga tidak lepas dari keinginannya membantu dan membahagiakan orang tua. Azis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya pernah berjualan sandal di Pasar Rambipuji, sebelum kemudian beralih menjadi pedagang eceran gas LPG. Sementara ibunya meninggal dunia pada November 2025 lalu.
"Motivasi awalnya ya kepengin mandiri. Kedua, pengin bahagiain kedua orang tua pastinya. Meskipun dengan segala keterbatasan yang aku punya," ucapnya.
**Dari Konten Iseng hingga Viral di Media Sosial**
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan