JATIM - Genap satu tahun memimpin Kabupaten Jember, Jawa Timur, Bupati Jember Muhammad Fawait menempatkan sektor kesehatan sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Sejak dilantik oleh Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025, Fawait langsung dihadapkan pada ancaman krisis layanan kesehatan akibat utang pemerintah daerah dan kondisi rumah sakit yang nyaris kolaps.
Fawait mengungkapkan bahwa pada awal masa jabatannya, Pemerintah Kabupaten Jember memiliki tanggungan utang sebesar Rp 214 miliar kepada tiga rumah sakit daerah, termasuk Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi.
“Ketika dilantik, hanya hitungan minggu pada waktu itu rumah sakit kita bisa kolaps,” ujar Fawait saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Sabtu (21/2/2026).
Kronologi krisis itu bermula dari laporan internal yang diterimanya sesaat setelah serah terima jabatan. Ia mendapat informasi bahwa stok oksigen di rumah sakit hanya tersedia untuk tujuh hingga 15 hari.
Selain itu, muncul ancaman penghentian suplai obat dan kebutuhan medis lainnya akibat keterlambatan pembayaran. Kondisi tersebut menempatkan Pemkab Jember dalam posisi sulit, karena di satu sisi rumah sakit terancam lumpuh, sementara di sisi lain mayoritas masyarakat membutuhkan layanan kesehatan gratis.
“Kondisi rumah sakit hampir kolaps, tapi di satu sisi rakyat kami banyak yang miskin dan membutuhkan pelayanan kesehatan gratis dan baik. Ini menjadi sebuah dilema,” kata Fawait.
Situasi tersebut, menurutnya, mengingatkan pada masa kecilnya di desa. Ia mengaku pernah menyaksikan tetangga yang sakit namun tidak mendapat perawatan layak karena keterbatasan biaya. Pesan ibunya kala itupun terus terngiang.
“Kalau ada orang Jember sakit enggak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, yang dosa bupati. Kalau ada ibu melahirkan tidak di tempat semestinya karena biaya, yang dosa bupati,” tuturnya menirukan ucapan yang disampaikan Ibunya.
Menghadapi ancaman krisis, Fawait segera mengundang sejumlah ahli di bidang hukum, kesehatan, dan ekonomi untuk merumuskan solusi.
Ia menyebut timnya bekerja siang malam untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan tanpa mengorbankan tenaga kesehatan maupun keberlangsungan rumah sakit.
Langkah pertama yang diambil adalah melakukan efisiensi anggaran, sejalan dengan arahan pemerintah pusat.
Sejumlah belanja yang dinilai tidak berdampak langsung kepada masyarakat dipangkas, termasuk rencana pengadaan mobil dinas bupati. Anggaran tersebut dialihkan untuk memperkuat pembiayaan jaminan kesehatan daerah guna mengejar predikat Universal Health Coverage (UHC) Prioritas.
Skema UHC Prioritas memungkinkan warga memperoleh layanan kesehatan gratis cukup dengan menunjukkan KTP atau Kartu Keluarga, tanpa harus mengurus administrasi keaktifan kepesertaan secara mandiri di BPJS Kesehatan.
Namun untuk mencapainya, cakupan kepesertaan harus di atas 98 persen dengan tingkat keaktifan minimal 80 persen, sehingga membutuhkan komitmen anggaran yang besar.
“Anggaran yang tersedia dalam APBD 2025 awal masih kurang, sehingga kami melobi pemerintah pusat, termasuk kepada BPJS Kesehatan, meyakinkan mereka bahwa Jember mampu,” kata Fawait.
Program UHC Prioritas resmi diberlakukan pada 1 April 2025, kurang dari dua bulan setelah Fawait menjabat. Melalui skema tersebut, Pemkab Jember membayar premi kepesertaan warga, sehingga masyarakat tetap mendapatkan layanan kesehatan gratis, sementara rumah sakit memperoleh kepastian pembayaran klaim dan tenaga kesehatan tetap menerima haknya.
Setahun berjalan, dampak kebijakan itu mulai terlihat. Fawait menyebut kinerja keuangan Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi menunjukkan tren positif.
“Hari ini pendapatan dr. Soebandi saja dalam sebulan terakhir Januari, saya update, kalau enggak salah Rp 31 miliar,” ujarnya.
Ia menilai capaian tersebut menjadi indikator bahwa rumah sakit daerah kembali pulih dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan pemerintah berangsur membaik.
“Masyarakat Jember bisa berobat gratis dengan layak tanpa ada surat keterangan miskin atau keterangan tidak mampu. Di satu sisi, kita bisa membuat rumah sakit daerah mendapatkan kembali hidupnya,” kata Fawait.
Perbaikan layanan kesehatan ini menjadi salah satu capaian yang disorot dalam satu tahun kepemimpinannya, di tengah tantangan fiskal dan tuntutan pelayanan publik yang tinggi.
Pemkab Jember menyatakan akan terus mengevaluasi dan memperkuat sistem pembiayaan kesehatan agar keberlanjutan layanan tetap terjaga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: