Jumat, 13 FEBRUARI 2026 • 09:55 WIB

Penghuni Perumahan Villa Indah Tegal Besar Kembali Panik Diterjang Banjir, Tembok Pembatas Ambrol, Warga Desak Tanggung Jawab Serius Pengembang

Author

JATIM - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Jember sejak Kamis siang (12/2/2026) kemarin, kembali memicu banjir di sejumlah kawasan, salah satunya Perumahan Villa Indah Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates. 

Banjir itu membuat puluhan kepala keluarga panik dan terpaksa mengungsi setelah air Sungai Bedadung meluap dan merendam rumah warga, bahkan menyebabkan tembok pembatas perumahan ambrol. 

Hingga artikel ini ditulis pada Jumat dini hari (13/2/2026), proses evakuasi warga masih terus berlangsung di beberapa titik terdampak banjir di Kabupaten Jember.

Kronologi kejadian bermula sekitar pukul 12.00 WIB saat hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur wilayah hulu hingga hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedadung dan sejumlah sungai lain di Jember. 

Berdasarkan rilis kewaspadaan cuaca ekstrem dari BMKG, curah hujan tinggi diprediksi masih akan terjadi dalam 10 hari ke depan. Hujan yang berlangsung terus-menerus menyebabkan debit air sungai meningkat drastis. 

Sekitar pukul 18.00 WIB, air mulai meluap ke permukiman warga di berbagai kecamatan. Di Perumahan Villa Indah Tegal Besar, air Sungai Bedadung mulai masuk ke rumah warga sekitar pukul 16.00 WIB dengan ketinggian yang terus bertambah, disertai jebolnya tembok pembatas di sisi utara perumahan yang berbatasan langsung dengan sungai.

Siska (49), salah satu warga Perumahan Villa Indah Tegal Besar, mengungkapkan bahwa banjir kali ini merupakan yang ketiga kalinya melanda kawasan tersebut. 

Ia menyebut hampir seluruh warga terpaksa mengungsi karena kondisi rumah tidak lagi aman. “Ini sudah kebanjiran yang ketiga kali. Semua warga mengungsi. Perumahan kami memang bermasalah dan saat ini juga masih dibahas di DPRD Jember untuk meminta pertanggungjawaban pihak pengembang,” ujar Siska saat dikonfirmasi disela proses evakuasi.

Menurut Siska, banjir tidak hanya merusak rumah, tetapi juga berdampak besar terhadap perekonomian warga, khususnya pelaku UMKM.

Ia mengaku usaha yang dijalaninya terpaksa berhenti hampir satu bulan akibat banjir, menyebabkan kerugian materiil dan kesulitan membayar angsuran rumah. 

“Barang-barang rusak, banyak yang hilang. Kami ini punya izin usaha UMKM, tapi tidak ada perhatian dari pengembang. Bantuan sembako dari dinas memang ada, tapi kerugian usaha kami tidak tersentuh. Bank juga tidak mau tahu soal angsuran, padahal kami tidak bisa produksi,” keluhnya. 

Ia berharap ada kebijakan keringanan angsuran serta solusi nyata dari pengembang, termasuk opsi relokasi karena warga merasa tidak lagi aman setiap kali musim hujan tiba.

Siska menambahkan, tembok pembatas antara perumahan dan Sungai Bedadung yang ambrol sebenarnya baru dibangun setelah banjir sebelumnya. Namun, kuat dugaan konstruksi tersebut tidak mampu menahan derasnya aliran air. 

“Tembok itu baru dibangun dari perbaikan banjir sebelumnya, tapi sekarang hancur dan ambruk. Warga terdampak sekitar 52 KK, dari Blok C sampai F, dan yang paling parah di Blok F,” jelasnya. Kata Siska, saat musibah banjir ini terjadi warga terdampak terpaksa harus mengevakuasi harta benda miliknya ke rumah tetangga yang tidak terdampak banjir dan menyelamatkan diri di Musala tidak jauh dari musibah banjir.

Sementara itu, Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menjelaskan bahwa hujan deras yang terjadi sejak Kamis siang menyebabkan hampir seluruh wilayah di Kabupaten Jember berada dalam kondisi siaga banjir. Ia menyebut hujan mulai turun sekitar pukul 14.00 WIB dan berlangsung hingga malam hari, baik di wilayah hulu maupun hilir. 

“Hari ini luar biasa sekali. Hujan terjadi dari hulu sampai hilir sehingga beberapa DAS mengalami kenaikan debit air yang signifikan,” ujarnya.

Berdasarkan assessment sementara tim reaksi cepat BPBD Jember, banjir melanda sedikitnya delapan kecamatan dan 17 desa atau kelurahan. Wilayah terdampak antara lain Kecamatan Rambipuji, Kaliwates, Bangsalsari, Sukorambi, Balung, Ajung, Kalisat, dan Panti. Di Kecamatan Rambipuji, banjir terparah terjadi di Desa Curah Ancar dengan ketinggian air mencapai sekitar 160 sentimeter hingga lebih dari dua meter di beberapa titik, sehingga evakuasi harus dilakukan menggunakan perahu karet. 

“Di sektor Nogosari, ketinggian air bahkan lebih dari dua meter. Orang dewasa bisa tenggelam, sehingga evakuasi wajib menggunakan perahu,” kata Edy.

BPBD Jember mengerahkan tiga perahu karet untuk proses evakuasi, masing-masing ditempatkan di Curah Ancar, Curah Malang, dan Nogosari, dengan dukungan dari Destana dan Pos SAR. 

Hingga dini hari, tercatat sekitar 299 jiwa mengungsi di sejumlah titik pengungsian, seperti rumah warga, masjid, dan balai desa. Total sementara kepala keluarga terdampak banjir di seluruh Kabupaten Jember mencapai 3.944 KK, dengan kerusakan infrastruktur berupa jembatan putus, jembatan gantung roboh, serta fasilitas umum lainnya.

Edy menegaskan bahwa prioritas utama adalah penyelamatan warga, terutama lansia, perempuan, dan anak-anak. Selain itu, dapur umum mandiri telah didirikan di beberapa lokasi terdampak, dengan dukungan logistik dari Dinas Sosial berupa nasi bungkus dan bahan kebutuhan pokok. 

“Sejauh ini belum ada laporan korban jiwa. Untuk warga yang sakit, termasuk yang mengalami stroke, sudah kami evakuasi ke puskesmas masing-masing,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Banjir di Perumahan Villa Indah Tegal Besar sendiri bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, warga telah berulang kali menyuarakan keluhan terkait banjir yang rutin melanda kawasan tersebut sejak 2018 dan semakin parah pada 2021 hingga puncaknya pada awal 2025. 

Keluhan itu bahkan telah dibahas dalam rapat dengar pendapat di DPRD Jember, namun hingga kini warga menilai belum ada solusi konkret yang benar-benar menyelesaikan masalah.

Warga berharap kejadian banjir kali ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan pihak pengembang perumahan untuk segera mengambil langkah nyata dan berkelanjutan, baik melalui perbaikan infrastruktur yang memadai maupun opsi relokasi, demi menjamin keselamatan dan kenyamanan penghuni yang setiap musim hujan selalu diliputi rasa was-was.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU