JATIM - Banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Jember sejak Kamis (12/2/2026) siang hingga Jumat dini hari (13/2/2026), menyebabkan jalur nasional Jember–Lumajang sempat lumpuh total dan ribuan kepala keluarga terdampak.
Hujan deras yang mengguyur sejak pukul 12.00 WIB hingga malam hari memicu kenaikan debit sejumlah sungai dan menggenangi permukiman warga di delapan kecamatan.
Berdasarkan laporan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, banjir terjadi pada Kamis pukul 18.00 WIB hingga Jumat pukul 04.20 WIB.
Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan meluapnya Sungai Dinoyo dan Kaliputih di Panti, Kalijompo di Sukorambi, aliran Sungai Bedadung di wilayah Kalisat dan Jelbuk, serta sejumlah sungai lainnya.
Sekitar pukul 18.00 WIB, debit air mulai meningkat dan meluap ke permukiman. Satu jam kemudian, sekitar pukul 19.00 WIB, banjir merendam rumah warga dengan ketinggian air bervariasi antara 30 sentimeter hingga dua meter, menggenangi akses jalan, merobohkan jembatan, serta memicu kemacetan panjang.
Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo menyampaikan bahwa salah satu dampak signifikan terjadi di jalur nasional penghubung Jember–Lumajang, tepatnya di wilayah Kaliputih, Kecamatan Rambipuji.
“Untuk arus lalu lintas jalur nasional Jember–Lumajang tadi di wilayah Kaliputih, Kecamatan Rambipuji, sempat meluap sehingga lalu lintas terhambat. Antrean kendaraan mencapai kurang lebih tiga kilometer,” ujar Edy saat dikonfirmasi disela proses evakuasi warga.
Ia menegaskan data yang dihimpun masih bersifat sementara dan terus berkembang seiring proses assessment di lapangan.
Selain Rambipuji, genangan juga terjadi di Kecamatan Sukorambi, Panti, Kalisat, Kaliwates, Bangsalsari, Ajung, dan Balung. Total delapan kecamatan dan 17 desa/kelurahan terdampak. BPBD mencatat sebanyak 3.944 kepala keluarga terdampak, dengan 299 jiwa terpaksa mengungsi.
Di Kecamatan Rambipuji, pengungsian terpusat di beberapa titik, antara lain rumah warga, masjid, dan balai desa. Kerusakan infrastruktur juga dilaporkan terjadi, meliputi tiga rumah rusak ringan, tiga jembatan terdampak—termasuk jembatan putus di Desa Suci, Kecamatan Panti, serta jembatan gantung roboh di Desa Jubung, Sukorambi—dan satu pondok pesantren di Kecamatan Ajung terdampak banjir.
Wakapolres Jember Kompol Ferry Dharmawan mengatakan pihaknya langsung turun ke lapangan sejak hujan deras mengguyur wilayah Jember.
“Seperti kita ketahui, dari siang tadi Jember diguyur hujan cukup deras sampai malam hari. Sesuai perintah Bapak Kapolres Jember, kami langsung turun karena beberapa titik terdapat banjir,” katanya.
Ia menjelaskan banjir cukup dalam terjadi di kawasan Jubung hingga menyebabkan sejumlah kendaraan mogok karena ketinggian air melebihi batas aman.
Untuk mengurai kemacetan, Polres Jember melakukan rekayasa lalu lintas dengan memecah arus kendaraan di pertigaan depan Polsek Rambipuji dan mengalihkan kendaraan kecil menuju arah Sukorambi.
“Untuk truk bertonase besar tetap kami biarkan lewat jalur utama karena jika dialihkan ke Sukorambi tanjakannya cukup curam dan dikhawatirkan mengganggu arus lalu lintas. Alhamdulillah, dengan rekayasa tersebut kemacetan berhasil diurai dan arus kembali lancar,” ujarnya.
Ferry menambahkan, pemantauan dilakukan selama 24 jam oleh seluruh kapolsek jajaran, terutama di wilayah yang dilintasi sungai seperti Jompo, Kaliwining, Badean, dan Balung.
Pihak kepolisian berkoordinasi dengan BPBD, Tagana, dan unsur tiga pilar untuk melakukan mitigasi cepat apabila debit air kembali meningkat, termasuk menyiapkan skema evakuasi dan lokasi pengungsian di balai desa.
Ia memastikan personel Polres Jember juga akan dikerahkan untuk membantu penanganan pascabanjir.
"Termasuk kerja bakti pembersihan lingkungan dan penyaluran bantuan sembako bagi warga terdampak," ucapnya.
Hingga artikel ini ditulis pada Jumat dini hari, proses evakuasi dan penanganan masih berlangsung. BPBD bersama unsur TNI/Polri, PMI, Basarnas, Dinas Sosial, perangkat desa, relawan, dan warga terus melakukan pemantauan, distribusi logistik, serta pendirian dapur umum, khususnya di Kecamatan Rambipuji yang menjadi prioritas penanganan.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem sebagaimana peringatan sebelumnya, serta segera melapor kepada aparat setempat apabila terjadi kenaikan debit air di wilayah masing-masing.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: