Tahun ini menjadi penyelenggaraan ke-9 JMF, dengan skala peserta yang terus meningkat dan konsep pembinaan yang kian matang, sehingga dinilai sebagai salah satu pintu masuk bagi marching band Tanah Air menuju kompetisi internasional. JMF 2026 diselenggarakan oleh Himpunan Orkes Barisan Indonesia (HOBI) di bawah naungan Asian Marching Band Confederation (AMBC).
Ketua Umum HOBI, Nancy Sambow, menjelaskan bahwa JMF tidak sekadar kompetisi, melainkan sarana edukasi berkelanjutan bagi marching band, mulai dari peserta, pelatih, hingga pembina.
“Melalui event ini, kami ingin mengedukasi bagaimana membentuk dan meningkatkan kualitas marching band. Edukasi itu kami mulai sejak technical meeting yang bahkan sudah dilakukan sejak masa pendaftaran awal,” ujar Nancy di sela kegiatan kompetisi, Minggu (8/2/2026). Ia menuturkan, tingginya antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai ratusan orang.
Untuk kategori individual contest, pendaftaran bahkan ditutup lebih awal karena sudah mencapai 235 peserta. Sementara itu, untuk kategori penampilan grup, tercatat sebanyak 88 marching band tampil, mulai dari tingkat taman kanak-kanak, junior, senior, hingga divisi open yang tidak dibatasi usia.
Peserta berasal dari sedikitnya tiga provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan sebaran daerah antara lain Jember, Bondowoso, Situbondo, Lumajang, Banyuwangi, Probolinggo, Malang, Ngawi, Yogyakarta, hingga Magelang. Nancy menjelaskan bahwa persiapan JMF dilakukan dalam waktu panjang, bahkan hampir satu tahun. “Setelah closing event tahun sebelumnya, sudah ada band yang langsung mendaftar untuk tahun berikutnya. JMF memang rutin digelar setiap awal tahun, di semester genap,” katanya.
Menurutnya, konsistensi ini menjadi bagian dari upaya HOBI membangun ekosistem marching band yang berkesinambungan dan merata hingga ke daerah pelosok. Lebih jauh, JMF juga dirancang sebagai jalur seleksi menuju ajang internasional. HOBI, sebagai perwakilan Indonesia di AMBC, memberikan peluang bagi para juara JMF untuk mendapatkan golden ticket atau rekomendasi mengikuti kompetisi luar negeri.
“Pemenang JMF akan kami tawarkan untuk mewakili Indonesia, salah satunya di ASEAN Music Games 2026 di Kuala Lumpur, tentu dengan syarat skor, poin, serta manajemen band yang memenuhi ketentuan,” jelas Nancy. Ia menambahkan, mekanisme ini menjadi bagian dari jenjang pembinaan yang harus dilalui sebelum tampil di level internasional.
Dalam pelaksanaannya, JMF 2026 juga didukung sistem penjurian berstandar internasional. Seluruh juri telah mengantongi lisensi dari AMBC, di antaranya Andi Hassan, Afrizal, dan Juryansyah dari Gresik; Iqbal Alfani dari Solo; Ahmad Arianto dari Sragen; Ginanjar Kamil dari Bandung; serta sejumlah juri dari Jember seperti Tri Meidy, Siska Kartika, Ahmad Vaisal, Rahmad Fendy, dan Abdullah. Standar ini diterapkan untuk memastikan kualitas penilaian sekaligus menyesuaikan dengan sistem kejuaraan yang diakui secara nasional.
Perempuan asal Depok ini juga menegaskan, JMF yang telah berjalan selama sembilan tahun ini terus dikawal agar memenuhi standar manajemen kejuaraan yang sesuai dengan ketentuan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). “Kami belajar bagaimana event bisa diakui pemerintah, mulai dari jumlah peserta, sebaran daerah, hingga kualitas penyelenggaraan. Target kami sederhana, bagaimana edukasi marching band bisa sampai ke daerah-daerah melalui event,” ujarnya.
"Dengan capaian peserta yang semakin luas dan peluang menuju panggung internasional, Jember Marching Festival kian mengukuhkan posisinya sebagai salah satu ajang bergengsi marching band nasional yang berorientasi global," imbuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber Dan Liputan