JATIM - Belakangan ini, isu soal bahan bakar yang mengandung etanol ramai dibicarakan setelah banyak pengendara melaporkan mesin kendaraan mereka mengalami brebet dan mogok. Meski etanol sebenarnya bisa digunakan sebagai campuran bahan bakar ramah lingkungan, namun kadar etanol yang tidak sesuai standar justru bisa menimbulkan berbagai masalah pada mesin motor maupun mobil.
Apa Itu Etanol dan Mengapa Digunakan pada BBM?
Etanol adalah senyawa alkohol (C₂H₅OH) yang dihasilkan dari fermentasi bahan organik seperti tebu, singkong, atau jagung. Di dunia otomotif, etanol sering digunakan sebagai campuran bahan bakar untuk mengurangi emisi karbon dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Contohnya, di beberapa negara seperti Brasil dan Amerika Serikat, sudah umum digunakan bensin campuran etanol seperti E10 (10% etanol) atau E20 (20% etanol).
Namun, pencampuran etanol ke bahan bakar harus dilakukan dengan proporsi yang tepat dan disertai standar penyimpanan serta distribusi ketat, agar tidak menimbulkan efek negatif pada mesin.
Dampak Etanol Terlalu Banyak di Dalam Mesin
Jika kadar etanol di dalam bahan bakar melebihi batas aman, maka bisa muncul berbagai masalah serius, terutama pada kendaraan yang tidak dirancang untuk menampung bahan bakar campuran etanol tinggi. Berikut beberapa dampaknya:
Mesin Brebet dan Sulit Dinyalakan
Etanol memiliki kadar air yang tinggi dan mudah menyerap kelembapan dari udara. Jika terlalu banyak, campuran ini bisa membuat pembakaran tidak sempurna, sehingga mesin terasa “brebet” atau tersendat saat digas.
Korosi pada Komponen Logam
Etanol bersifat korosif. Jika masuk ke tangki bahan bakar atau ruang bakar dalam jumlah besar, etanol bisa mengikis logam pada karburator, injektor, hingga klep mesin. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menimbulkan kerusakan permanen pada sistem bahan bakar.
Kerusakan pada Komponen Karet dan Plastik
Banyak motor dan mobil keluaran lama masih menggunakan selang dan seal berbahan karet alami. Etanol bisa bereaksi dengan material tersebut dan menyebabkan retak, bocor, atau mengeras, sehingga bahan bakar mudah merembes keluar.
Tenaga Mesin Berkurang
Nilai kalor etanol lebih rendah daripada bensin murni. Artinya, pembakaran yang dihasilkan lebih sedikit menghasilkan tenaga. Dampaknya, kendaraan jadi kurang responsif, boros bahan bakar, dan performa menurun.
Campuran Air dalam Tangki
Karena etanol mudah menyerap air, uap air di tangki bisa bercampur dengan bahan bakar dan mengendap di dasar tangki. Endapan ini bisa menyumbat saluran bahan bakar atau injektor, menyebabkan mesin macet dan karat.
Bagaimana Cara Menghindarinya?
Agar kendaraan tetap aman dari dampak etanol berlebih, berikut beberapa tips perawatan yang bisa dilakukan:
- Gunakan BBM dari SPBU resmi dan hindari membeli bensin eceran tanpa label jelas.
- Jangan biarkan tangki kosong terlalu lama, karena ruang kosong mempercepat penyerapan uap air.
- Jika kendaraan jarang digunakan, gunakan stabilizer bahan bakar agar etanol tidak terpisah dari bensin.
- Periksa filter bahan bakar dan injektor secara rutin agar tidak tersumbat oleh endapan.
- Jika mesin mulai brebet setelah isi BBM, segera ganti bahan bakar dan periksa ke bengkel.
Etanol Bukan Musuh, Tapi Harus Sesuai Standar
Sebenarnya, etanol bukan bahan berbahaya jika digunakan dengan benar. Bahkan, bahan ini merupakan bagian dari transisi energi hijau di banyak negara. Namun, ketika pencampurannya tidak sesuai standar atau distribusinya tidak diawasi ketat, efeknya bisa merugikan konsumen.
Pakar otomotif menyarankan agar campuran etanol maksimal 10% (E10) untuk kendaraan umum di Indonesia, sambil memastikan setiap SPBU menjalankan pengujian laboratorium berkala terhadap kualitas bahan bakar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: