Fenomena Koyo di Ranu Klakah Lumajang: Penyebab Ikan Naik ke Permukaan, Ternyata Ini Penjelasan Ilmiahnya
JATIM – Suasana pagi yang dingin di tepian Ranu Klakah, Kabupaten Lumajang, mendadak ramai oleh warga yang membawa serok, jaring sederhana, hingga ember plastik. Mereka bukan datang untuk mengikuti lomba memancing, melainkan memanfaatkan fenomena Koyo, sebuah peristiwa alam yang sudah dikenal masyarakat setempat sejak puluhan tahun lalu.
Tak lama setelah matahari mulai terbit, ikan nila terlihat berenang lambat di permukaan danau. Beberapa udang juga muncul di tepian sehingga mudah ditangkap. Anak-anak hingga orang dewasa memanfaatkan momen tersebut untuk mengumpulkan ikan yang sedang melemah.
Bagi warga sekitar Ranu Klakah, fenomena ini bukan kejadian langka. Koyo hampir selalu muncul saat suhu udara mulai menurun, terutama pada pertengahan tahun hingga akhir musim kemarau.
Apa Itu Fenomena Koyo?
Bagi masyarakat Lumajang, Koyo adalah istilah lokal untuk kondisi ketika banyak ikan muncul ke permukaan danau akibat perubahan kondisi alam. Pengetahuan ini telah diwariskan turun-temurun jauh sebelum masyarakat mengenal istilah ilmiah upwelling.
Warga telah lama memahami bahwa perubahan suhu udara, arah angin, hingga kondisi permukaan air menjadi tanda datangnya Koyo. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga hingga sekarang.
Kearifan Lokal yang Masih Dipertahankan
Salah seorang warga sekitar Ranu Klakah, Ashari, mengatakan fenomena Koyo selalu muncul ketika udara mulai terasa lebih dingin.
"Kalau sudah seperti ini, warga biasanya bilang Koyo datang. Biasanya yang banyak muncul ikan nila, kadang juga udang," ujarnya.
Menurut warga, fenomena ini bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Justru banyak masyarakat memanfaatkan momen tersebut untuk mendapatkan ikan segar dengan lebih mudah.
Kemampuan membaca perubahan alam tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat telah lama hidup selaras dengan lingkungan di sekitar danau.
Penjelasan Ilmiah Fenomena Koyo di Ranu Klakah
Di balik kepercayaan masyarakat, ternyata fenomena Koyo memiliki penjelasan ilmiah.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang, Yuli Harismawati, menjelaskan bahwa Koyo merupakan proses upwelling, yaitu naiknya massa air dari dasar danau ke permukaan akibat perubahan suhu udara maupun kondisi cuaca.
Air di dasar danau memiliki kandungan oksigen terlarut yang lebih rendah dibanding lapisan atas. Ketika lapisan air bercampur akibat perubahan cuaca, kadar oksigen di permukaan ikut menurun sehingga ikan mengalami kekurangan oksigen.
Akibat kondisi tersebut, ikan menjadi lemah dan naik ke permukaan air untuk mencari oksigen yang lebih banyak.
"Ikan bukan keracunan. Fenomena ini terjadi karena kadar oksigen di dalam air menurun akibat proses alami. Karena itu ikan terlihat lemas dan muncul ke permukaan," jelas Yuli.
Penjelasan tersebut membuktikan bahwa istilah Koyo yang dikenal masyarakat sebenarnya merujuk pada fenomena alam yang dalam ilmu pengetahuan disebut upwelling.
Pembudidaya Ikan Sudah Mengantisipasi Musim Koyo
Fenomena Koyo juga sudah dipahami para pembudidaya ikan keramba di Ranu Klakah.
Zakki Zulkarnain, salah satu pembudidaya ikan setempat, mengatakan Koyo hampir selalu terjadi ketika suhu udara mulai dingin.
"Biasanya mulai pertengahan tahun sampai sekitar akhir Agustus memang sering terjadi Koyo," katanya.
Karena terjadi hampir setiap tahun, para pembudidaya mulai menyesuaikan pola budidaya. Penebaran benih, pemberian pakan, hingga jadwal panen diatur agar tidak bertepatan dengan musim Koyo.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kerugian akibat ikan yang mengalami stres karena kekurangan oksigen.
Rezeki Bagi Warga, Tantangan untuk Pembudidaya
Fenomena Koyo membawa dampak yang berbeda bagi masyarakat.
Di satu sisi, warga memperoleh kesempatan menangkap ikan nila dan udang dengan lebih mudah. Melimpahnya hasil tangkapan juga membuat harga ikan nila cenderung turun dibanding hari-hari biasa.
Namun di sisi lain, pembudidaya ikan harus segera memanen ikan meski ukurannya belum maksimal. Keputusan tersebut dilakukan agar ikan tidak mati akibat berkurangnya kadar oksigen di dalam air.
Karena itu, memahami siklus Koyo menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha budidaya ikan di Ranu Klakah.
Apakah Ikan Saat Fenomena Koyo Aman Dikonsumsi?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul saat fenomena Koyo terjadi adalah apakah ikan yang naik ke permukaan masih aman dikonsumsi.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang memastikan bahwa ikan tersebut tetap layak dikonsumsi selama masih dalam kondisi segar.
Fenomena Koyo bukan disebabkan oleh limbah, racun, maupun pencemaran air. Penyebab utamanya adalah menurunnya kadar oksigen terlarut akibat proses alami di dalam danau.
Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir selama ikan masih segar dan diolah dengan baik.
Fenomena Alam yang Mengajarkan Manusia Beradaptasi
Menjelang siang, aktivitas warga di tepian Ranu Klakah kembali normal. Ember yang sebelumnya kosong kini telah terisi ikan nila dan beberapa udang hasil tangkapan pagi.
Permukaan danau pun perlahan kembali tenang. Bagi masyarakat sekitar, Koyo bukan sekadar peristiwa tahunan, tetapi bagian dari siklus alam yang selalu datang mengikuti perubahan musim.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal dan ilmu pengetahuan saling melengkapi. Masyarakat mengenalnya sebagai Koyo, sedangkan dunia ilmiah menyebutnya upwelling. Meski berbeda nama, keduanya menjelaskan fenomena alam yang sama dan mengingatkan pentingnya memahami serta menjaga keseimbangan ekosistem danau.
Dengan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi dan diperkuat oleh penjelasan ilmiah, masyarakat Ranu Klakah terus belajar hidup berdampingan dengan alam serta menyesuaikan diri terhadap setiap perubahan yang terjadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber