JATIM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo memastikan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Kabupaten Probolinggo masih dalam kondisi aman. Meski terjadi peningkatan kebutuhan, terutama untuk jenis Biosolar bersubsidi, distribusi BBM hingga saat ini tetap berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Sebagai langkah antisipasi terhadap meningkatnya konsumsi BBM di masa mendatang, Pemkab Probolinggo telah mengajukan usulan penambahan kuota Biosolar sebesar 30 persen kepada Pertamina dan instansi terkait.
Kepastian tersebut diperoleh setelah Tim Monitoring Stabilisasi BBM Kabupaten Probolinggo melakukan pemantauan langsung ke sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada Rabu (24/6/2026).
Pemkab Probolinggo Pantau Distribusi BBM di SPBU
Monitoring dilakukan di SPBU Kebonagung Kecamatan Kraksaan dan SPBU Paiton Kecamatan Paiton. Kegiatan dipimpin oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, M. Sjaiful Efendi, bersama unsur Forkopimda, perwakilan Pertamina, serta sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Selain memantau stok BBM, tim juga melakukan pemeriksaan terhadap kualitas pelayanan dan akurasi alat ukur dispenser BBM melalui tera ulang yang dilakukan oleh UPT Metrologi Legal Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo.
Hasil Tera Ulang Tunjukkan SPBU Masih Sesuai Standar
Dari hasil pemeriksaan, seluruh dispenser BBM yang diuji masih memenuhi standar pelayanan yang ditetapkan pemerintah.
Tingkat kesalahan pengukuran atau error margin yang ditemukan masih jauh di bawah batas toleransi yang diperbolehkan. Jika batas maksimal kesalahan mencapai 100 mililiter per 20 liter BBM, hasil pengujian menunjukkan rata-rata kesalahan hanya sekitar 5 hingga 30 mililiter.
Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap memperoleh volume BBM sesuai dengan jumlah yang dibayarkan.
Tidak Ada Antrean Panjang dan Kelangkaan BBM
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Probolinggo, M. Sjaiful Efendi, menjelaskan bahwa hasil monitoring menunjukkan distribusi BBM berjalan normal dan tidak ditemukan antrean panjang di SPBU yang dipantau.
Menurutnya, meskipun sempat terjadi penyesuaian harga Pertamax yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat, dampaknya tidak signifikan dan kondisi saat ini telah kembali stabil.
"Hasil pemantauan menunjukkan stok BBM masih aman dan pelayanan kepada masyarakat berjalan lancar. Tidak ada antrean panjang maupun gejala kepanikan pembelian BBM," ujarnya.
Ia menambahkan, keterlambatan distribusi Biosolar yang sempat terjadi di beberapa SPBU hanya berlangsung dalam waktu singkat dan tidak sampai menyebabkan kelangkaan di masyarakat.
Pemkab Ajukan Tambahan Kuota Biosolar 30 Persen
Meski kondisi pasokan BBM masih terkendali, Pemkab Probolinggo tetap mengambil langkah antisipatif dengan mengusulkan tambahan kuota Biosolar sebesar 30 persen.
Usulan tersebut diajukan karena realisasi kebutuhan Biosolar di lapangan dinilai sudah melampaui alokasi kuota yang tersedia saat ini.
"Pemerintah daerah telah mengajukan tambahan kuota Biosolar sebesar 30 persen sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi kekurangan pasokan di masa mendatang," jelas Sjaiful.
Menurutnya, langkah tersebut penting mengingat tingginya aktivitas transportasi dan distribusi barang yang melintasi wilayah Kabupaten Probolinggo.
Tidak Ditemukan Praktik Penimbunan BBM
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan DKUPP Kabupaten Probolinggo, Mehdinsareza Wiriarsa, menegaskan bahwa hasil inspeksi tidak menemukan adanya indikasi penimbunan BBM di wilayah Kabupaten Probolinggo.
Data distribusi dari Pertamina juga dinyatakan sesuai dengan data penyaluran yang tercatat di SPBU.
"Dari hasil pengawasan, tidak ditemukan praktik penimbunan BBM. Distribusi berjalan normal dan stok untuk masyarakat masih tersedia dengan baik," katanya.
Tingginya Konsumsi Biosolar Dipengaruhi Jalur Pantura
Menurut Reza, tingginya konsumsi Biosolar di Kabupaten Probolinggo dipengaruhi oleh posisi strategis daerah yang berada di jalur Pantai Utara (Pantura) serta memiliki akses langsung ke jalan tol.
Kondisi tersebut menjadikan Kabupaten Probolinggo sebagai salah satu titik favorit kendaraan angkutan barang untuk mengisi bahan bakar, sehingga kebutuhan Biosolar lebih tinggi dibandingkan sejumlah daerah lainnya.
Meski demikian, berdasarkan data yang dimiliki pemerintah daerah dan Pertamina, stok BBM di Kabupaten Probolinggo diperkirakan masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun 2026.
Pengawasan Distribusi BBM Akan Terus Dilakukan
Pemkab Probolinggo memastikan pengawasan distribusi BBM akan terus dilakukan secara berkala bersama Pertamina dan pengelola SPBU.
Selain tera ulang alat ukur setiap enam bulan, pemerintah juga siap melakukan inspeksi mendadak apabila diperlukan guna menjaga kualitas pelayanan dan memastikan distribusi BBM tetap berjalan optimal.
Dengan stok yang masih aman, distribusi yang terkendali, serta usulan penambahan kuota Biosolar yang telah diajukan, Pemerintah Kabupaten Probolinggo optimistis kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi tanpa kendala hingga akhir tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dari Berbagai Sumber