Rabu, 08 JULI 2026 • 13:40 WIB

Kisah Penjual Cilok Viral Asal Bondowoso, Dijuluki 'CEO Nyamar' karena Tak Gengsi Cari Nafkah Meski Tinggal di Rumah Mewah

Author

Penjual Cilok Viral

Dari Ditentang Mertua hingga Viral dan Menginspirasi Anak Muda untuk Tidak Gengsi Bekerja

JATIM  – Sosok Danil Abdul Azis (23), penjual cilok keliling asal Desa Patemon, Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mendadak menjadi perhatian publik setelah video kesehariannya berjualan viral di media sosial dan ditonton hingga 8,6 juta kali. 

Warganet menjulukinya sebagai "CEO Nyamar" atau "Sultan Menyamar" lantaran di balik profesinya sebagai pedagang cilok, Danil diketahui tinggal di rumah mewah berukuran sekitar 15 x 20 meter lengkap dengan garasi mobil. 

Namun, di balik viralnya video tersebut, tersimpan kisah perjuangan seorang anak muda yang memilih hidup mandiri meski sempat ditentang keluarga sang istri.

Setiap hari sejak pukul 08.00 hingga sekitar pukul 15.00 WIB, Danil mangkal berjualan cilok di sekitar SPBU Tlogosari. Aktivitas sederhana itu awalnya hanya ia rekam untuk mengisi konten media sosial. 

Tanpa diduga, salah satu videonya masuk halaman For You Page (FYP) TikTok dan menyebar luas hingga menjadi perbincangan di berbagai platform.

"Tapi malah viral. Bahkan ada salah satu video yang dilihat 8,6 juta penonton," ujar Danil saat ditemui sejumlah wartawan di rumahnya, Rabu (8/7/2026).

Perhatian publik semakin besar setelah warganet mengetahui bahwa rumah yang ditempati Danil bersama istrinya, Fera Faunia (21), dan anak mereka tergolong mewah untuk ukuran pedesaan. 

Banyak yang mengira Danil tidak perlu bekerja keras karena berasal dari keluarga berada. Namun, Danil menegaskan rumah tersebut merupakan pemberian mertuanya, bukan hasil usahanya sendiri.

Keputusan Danil berjualan cilok ternyata tidak berjalan mulus. Pada awalnya, niatnya mencari nafkah sendiri justru mendapat penolakan dari mertua. 

Bukan karena meragukan kemampuannya, melainkan karena keluarga sang istri merasa masih mampu memenuhi kebutuhan hidup anak dan menantunya.

"Awalnya memang sempat ditolak oleh mertua. Karena mertua merasa masih mampu menghidupi anak dan menantunya," kata Danil.

Menurut Danil, sang mertua bahkan beranggapan dirinya mampu mempekerjakan orang lain di sawah sehingga tidak perlu membiarkan anak dan menantunya berjualan di jalan. Meski demikian, Danil bersama istrinya tetap sepakat memilih jalan hidup mandiri.

"Namun saya bersama istri tetap bertekad untuk mandiri, meski cuma berjualan cilok," ujarnya.

Untuk menghormati keinginan keluarga, pasangan muda tersebut sempat menjalankan usaha dengan cara memproduksi adonan cilok di rumah, sementara penjualannya dilakukan oleh orang lain yang mereka pekerjakan. 

Namun, sebuah peristiwa tak terduga menjadi titik balik perjalanan usaha mereka.

Suatu hari, karyawan yang biasa berjualan berhalangan hadir. Karena seluruh bahan sudah terlanjur dimasak, Danil memutuskan turun langsung menjajakan ciloknya. Di luar dugaan, seluruh dagangan habis terjual pada hari itu.

"Ternyata hasilnya luar biasa. Dagangan cilok ludes terjual," kenangnya.

Keberhasilan tersebut kemudian diceritakan sang istri kepada orang tuanya. Melihat kesungguhan Danil bekerja dan hasil yang diperoleh, hati sang mertua akhirnya luluh. Sejak saat itu, ia mendapat restu untuk berjualan cilok secara langsung.

Danil mengaku, tantangan terbesar bukan berasal dari penilaian orang lain, melainkan melawan rasa gengsi dalam dirinya sendiri.

"Awalnya memang ada rasa malu. Tapi saya berpikir lagi, saya dapat apa dari rasa malu dan gengsi ini? Akhirnya saya lawan rasa itu dengan aksi nyata. Setelah dijalani ternyata tidak semenyeramkan yang saya bayangkan," tuturnya.

Seiring viralnya video di media sosial, penjualan cilok Danil meningkat signifikan. Jika sebelumnya penjualannya berjalan normal, kini ia mampu menghabiskan sekitar lima plastik besar pentol setiap hari dengan omzet mencapai sekitar Rp500 ribu.

Meski popularitasnya terus meningkat, Danil menegaskan dirinya tidak pernah berniat mencari ketenaran. Baginya, media sosial hanya menjadi sarana berbagi semangat agar anak-anak muda berani bekerja keras tanpa gengsi selama pekerjaan tersebut halal.

"Prinsip bahwa 100 persen hidup saya adalah 100 persen tanggung jawabnya saya sendiri. Jangan berharap kepada siapa pun. Saya harus bisa berdiri di atas kaki sendiri," ungkapnya.

Lebih jauh, Danil berharap usaha kecil yang sedang dirintis bersama istrinya suatu saat dapat berkembang menjadi usaha yang lebih besar sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

"Siapa tahu dengan saya jualan cilok ini nanti bisa membuat banyak gerobak dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain," pungkas Danil.

Kisah Danil menjadi pengingat bahwa ukuran kesuksesan tidak ditentukan oleh latar belakang ekonomi maupun penampilan. Di tengah budaya yang kerap memandang rendah pekerjaan tertentu, pemuda asal Bondowoso ini justru menunjukkan bahwa tidak ada alasan untuk gengsi selama pekerjaan yang dilakukan halal, dilakukan dengan jujur, dan menjadi jalan untuk membangun kemandirian keluarga.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
Tags
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU