Jumat, 03 JULI 2026 • 10:31 WIB

Tahun Ajaran Baru Jadi Berkah bagi Penjahit Seragam di Jember, Pesanan Membludak hingga Terpaksa Ditolak

Author

JATIM - Momentum tahun ajaran baru membawa berkah tersendiri bagi para penjahit seragam sekolah di Kabupaten Jember. Salah satunya dirasakan Sukrianto (74), pemilik Trevira Tailor yang berlokasi di Jalan Kenanga, Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur. 

Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, jumlah pesanan seragam sekolah yang diterimanya meningkat tajam hingga membuatnya harus menolak sebagian pelanggan.

Pria yang telah menekuni profesi penjahit sejak 1969 itu mengaku momen pergantian tahun ajaran menjadi periode yang paling dinantikan dibandingkan musim Lebaran. Menurutnya, lonjakan pesanan saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan permintaan jahitan pakaian menjelang Hari Raya Idulfitri.

“Kalau yang diharapkan memang tahun ajaran baru. Kalau Lebaran sekarang biasa saja, seperti hari-hari biasa. Justru tahun ajaran baru ini yang ramai sekali,” ujar Sukrianto saat ditemui di tempat usahanya, Jumat (3/7/2026).

Berlokasi tak jauh dari perlintasan kereta api yang menghubungkan Kelurahan Gebang dan Kelurahan Jember Kidul, tempat jahit milik Sukrianto tampak sibuk melayani pesanan seragam sekolah dari berbagai jenjang pendidikan. Dalam sehari, ia bersama beberapa pekerjanya mampu menyelesaikan hingga delapan set seragam.

Pesanan yang masuk didominasi seragam SMP dan SMA, sementara untuk tingkat SD sebagian besar berasal dari sekolah yang sudah menjadi pelanggan tetap. Bahkan, untuk salah satu sekolah dasar swasta di Jember, pengerjaan seragam sudah dilakukan sejak Februari hingga Mei sebelum diserahkan kepada pihak sekolah.

“Paling banyak SMP dan SMA. Kalau SD ada yang langganan, pengerjaannya sudah dimulai beberapa bulan sebelumnya untuk kebutuhan tahun ajaran baru,” katanya.

Tingginya permintaan membuat kapasitas produksi kerap tidak mampu mengimbangi jumlah pesanan yang masuk. Sukrianto mengaku dalam beberapa kesempatan terpaksa menolak pelanggan karena antrean pekerjaan yang sudah terlalu banyak.

“Kalau sekarang sampai ada yang ditolak karena pesanan terlalu banyak,” ungkapnya.

Meski permintaan meningkat, Sukrianto juga menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku jahitan. Hampir seluruh kebutuhan produksi, mulai dari benang, ritsleting hingga kain keras untuk kerah baju mengalami kenaikan harga dalam beberapa tahun terakhir.

“Semua bahan naik. Benang naik, ritsleting naik, kain keras juga naik. Dulu sekitar Rp21 ribu per meter, sekarang sudah Rp27 ribu per meter,” ujarnya.

Untuk menyesuaikan biaya produksi yang semakin tinggi, ia menaikkan ongkos jahit secara bertahap. Jika sebelumnya tarif pembuatan satu set seragam berada di kisaran Rp170 ribu hingga Rp175 ribu, kini menjadi sekitar Rp180 ribu per set.

Meski demikian, kenaikan harga tersebut tidak mengurangi minat pelanggan. Sukrianto yang kini mempekerjakan beberapa orang karyawan mengaku tetap kebanjiran pesanan setiap memasuki musim penerimaan siswa baru dan pergantian tahun ajaran.

Bagi penjahit asal Sukowono yang telah menjalankan usaha di Jember sejak 1983 itu, tahun ajaran baru bukan hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga momentum penting yang membantu menjaga keberlangsungan usaha yang telah ditekuninya selama puluhan tahun.

“Memang momen ini yang ditunggu-tunggu,” tutur Sukrianto sambil tersenyum.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU