JATIM - Kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir.
Kondisi ini paling dirasakan warga di Kecamatan Mayang dan Kecamatan Kalisat, yang kesulitan mendapatkan elpiji bersubsidi untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Sejumlah warga mengaku harus berkeliling ke kecamatan lain bahkan membeli di luar wilayah tempat tinggalnya karena stok di pangkalan dan pengecer setempat kosong.
Salah satunya Wawan Andriawan (47), warga Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, yang menyebut kelangkaan sudah terjadi sekitar satu minggu.
“Benar mas, sekitar semingguan ini kalau yang saya tahu. Juga informasi dari tetangga saya. Positif langka, kapan hari di Arjasa. Sampai ada warga Arjasa beli di Antirogo dekat Ponpes Nuris dan juga saya dapatnya beli gas elpiji 3 kg di toko daerah Baratan, Patrang,” ujar Wawan saat dikonfirmasi di Jember, Kamis (5/2/2026).
Keluhan serupa disampaikan Rofiq Hamdi (36), warga Desa Seputih, Kecamatan Mayang, yang mengaku sudah tiga hari berkeliling mencari elpiji 3 kilogram.
“Saya cari tabung gas elpiji 3 kg sudah keliling, tiga hari belakangan. Di Pakusari, Sumbersari, sampai daerah kampus. Itupun baru dapat satu di kampus. Bahkan saya dapat info dari tengkulak, pembelian sekarang dibatasi,” kata Rofiq.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua DPC Hiswana Migas Besuki, Ikbal Wilda Fardana, membenarkan adanya peningkatan permintaan elpiji 3 kilogram di wilayah Kecamatan Mayang dan sekitarnya dalam beberapa minggu terakhir.
Ia menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kepolisian, serta Pertamina, dan telah mengirimkan surat permohonan penambahan alokasi.
“Alhamdulillah surat sudah kami kirim dan sudah dibalas dari pemerintah daerah Kabupaten Jember dan sekarang posisinya tinggal nunggu proses dari Pertamina sendiri,” ujar Ikbal saat dikonfirmasi terpisah.
Dalam pengajuan tersebut, katanya, Hiswana Migas mengusulkan penambahan stok hingga 100 persen dari permohonan untuk memenuhi kebutuhan harian elpiji 3 kilogram di Jember, meski jumlah yang disetujui masih menunggu keputusan.
Saat ini, alokasi elpiji 3 kilogram di Kabupaten Jember tercatat sekitar 77 ribu tabung. Ikbal juga mengungkapkan, kelangkaan dipicu ketimpangan jumlah pangkalan antarwilayah.
"Di Kecamatan sendiri (Mayang), jumlah pangkalan hanya 47 unit, jauh lebih sedikit dibanding Kecamatan Pakusari yang memiliki sekitar 290 pangkalan dan Kecamatan Kalisat dengan sekitar 500 pangkalan. Karena sedikitnya pangkalan yang ada di Kecamatan Mayang. Sehingga peredaran LPG 3 kg di Kecamatan Mayang juga sedikit,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Hiswana Migas mendorong penambahan pangkalan di Kecamatan Mayang agar distribusi lebih merata. Selain itu, langkah penambahan alokasi juga dilakukan sebagai antisipasi meningkatnya kebutuhan menjelang bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
Pria yang juga Legislator asal PPP ini menyebut, Kecamatan Mayang dikenal juga sebagai sentra industri UMKM kue kacang, sehingga permintaan elpiji 3 kilogram cenderung meningkat setiap tahun menjelang Ramadan.
Untuk mencegah panic buying (kondisi panik, kemudian membeli dengan jumlah berlebih), Hiswana Migas bersama pihak terkait juga mengimbau pangkalan dan pengecer membatasi pembelian sementara dengan ketentuan satu orang satu tabung.
“Tujuannya supaya tidak terjadi panic buying di tingkat masyarakat. Kalau membeli lebih dari satu, otomatis masyarakat lain tidak kebagian,” katanya.
"Kami juga imbau masyarakat agar menyampaikan informasi kelangkaan secara jelas dan detail, termasuk lokasi RT, RW, desa, atau kelurahan, agar bisa segera dimonitor ke lapangan," imbuhnya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa penambahan kuota elpiji bersubsidi merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM.
“Pengajuan penambahan kuota LPG bersubsidi disampaikan ke Pemerintah Pusat di Dirjen Migas Kemen ESDM. Pertamina tidak memiliki kewenangan menambahkan kuota, Pertamina sebagai pelaksana distribusi dengan jumlah yang sudah ditetapkan,” jelas Ahad saat dikonfirmasi lewat ponselnya.
Ia menambahkan, proyeksi kebutuhan telah diperhitungkan dan data terkait akan disampaikan bersamaan dengan rilis resmi.
"Nanti saat masa Satgas Ramadan dan Idulfitri (RAFI) 2026," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan