
JATIM – Gelombang demonstrasi yang dipimpin Generasi Z di Nepal berujung tragedi. Sedikitnya 19 orang dilaporkan tewas, ratusan lainnya luka-luka, dan sejumlah pengunjuk rasa mengaku mengalami kekerasan seksual serta penembakan brutal oleh aparat.
Miss Nepal Earth 2022, Sareesha Shrestha, dalam sebuah unggahan TikTok menuding aparat melakukan tindakan represif di luar batas. Ia mengklaim sejumlah siswa berseragam sekolah ditembak, bahkan ada serangan terhadap korban luka di rumah sakit.
“Siswa berseragam, bahkan anak di bawah umur, ditembak. Petugas memasuki rumah sakit dan menyerang mereka. Demonstrasi damai berubah menjadi tragedi bagi seluruh bangsa,” ujar Shrestha, dikutip NDTV, Selasa (9/9/2025).
Senada, influencer Nepal Ruth Khadka menyebut demonstran yang sebagian besar siswa sekolah menjadi korban penembakan dan kekerasan seksual.
“Perempuan diperkosa di rumah mereka karena menentang korupsi. Polisi seharusnya melindungi warga, bukan membunuh mereka,” katanya.
Sementara itu, Drishti Adhikari, seorang TikToker Nepal, menegaskan bahwa mayoritas demonstran turun ke jalan tanpa senjata. Namun, aparat justru membalas dengan gas air mata, peluru karet, hingga tembakan langsung.
“Di antara korban tewas ada siswa berseragam sekolah. Penggunaan peluru tajam jelas melanggar prinsip dasar PBB tentang penggunaan kekuatan,” ujarnya.
Sebuah video lain yang beredar menunjukkan seorang perempuan, diduga dokter, menuding polisi menembak pasien di rumah sakit.
“Bagaimana mungkin mereka menembak di dalam rumah sakit? Itu tempat aman,” katanya.
Situasi Memanas
Protes besar-besaran ini dipicu larangan penggunaan media sosial yang kemudian dicabut pemerintah pada Selasa (9/9). Namun, unjuk rasa meluas menjadi kemarahan terhadap partai-partai politik yang dianggap gagal memberantas korupsi.
Massa dilaporkan membakar rumah sejumlah tokoh politik, termasuk milik mantan Perdana Menteri Sher Bahadur Deuba, Presiden Ram Chandra Poudel, Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak, serta pemimpin Partai Komunis Nepal Pushpa Kamal Dahal. Sekolah swasta milik Arzu Deuba Rana, istri Deuba sekaligus Menteri Luar Negeri Nepal, juga ikut dibakar.
Pemerintah memberlakukan jam malam di Kathmandu dan kota-kota besar lainnya. Sejumlah sekolah ditutup demi keamanan.
Hingga kini, aparat belum memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan pemerkosaan dan penembakan yang dilayangkan para influencer Nepal. Namun, komunitas internasional menilai tindakan represif tersebut berpotensi melanggar hak asasi manusia (HAM).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dari Berbagai Sumber